ads

Sunday, September 24, 2017

Friday, August 18, 2017


Nostalgia Aqiqah sempena Hari Raya Korban 1438




Bila Kambing Jantan naik perahu...


Arus sungai Pahang mengalir lesu walaupun hujan ketika ini tetapi kenangan karam bersama kambing tetap bersemadi di dasarnya.

Tahun 1964, airnya mengalir deras, dasarnya masih dalam dan terdapat banyak lubuk yang dikhabarkan berpuaka.



Sungai Pahang yang menyimpan seribu rahsia kehidupan



Pasir timbul di musim panas

Di tahun itu, ketika Jab berusia 4 tahun dan kini berusia sudah lebih separuh abad. Kenangan bersama arwah ayah dan arwah ibu berserta kambing jantan di Sungai Pahang tetap everlasting.


Reban kambing

Kambing jantan berjanggut putih adalah rodong Jab ketika itu. Setiap petang sebelum memasuki reban diberinya semua kambing-kambing itu memakan rumput. Jab juga membantu ayahendanya mencari ranting kayu untuk membuat unggun api. Ini pekerjaan rutin dilakukan oleh kebanyakkan gembala kambing atau lembu.

Satu kenangan bersama kambing jantan yang menjadi ingatannya. Dikhabarkan kambing ini bakal dikorbankan untuk aqiqahnya sedikit masa lagi. 

Tidak semena-mena kambing itu naik minyak dan mengejarnya hinggakan lintang pukang menyelamatkan diri. Segala cerok belukar dan pokok kelapa dikelilinginya. Kambing jantan berjanggut putih tetap mengejarnya. 

Akhirnya Jab berlari sambil menangis menaiki tangga rumah tetapi terjatuh dan terus meraung sekuat-kuatnya. Rasa kesakitan dan ketakutan memecahkan kesunyian petang itu. Entah kenapa, kambing itu tidak menanduknya dan hanya berdiri mengangguk-anggukkan kepala sambil 'senyum kambing'.

Kenangan tidak pernah luput, terang Jab. Suatu petang yang damai Jab bersama arwah ayah dan arwah ibu menaiki perahu ke seberang dengan mengangkut kambing jantan, beras seguni baja dan barangan lainnya. 

Tujuannya ke seberang adalah untuk mengadakan majlis kenduri aqiqah untuk Jab si anak sulungnya dan doa selamat. Di rumah kakak iparnya di hulu di seberang sungai sekitar kira-kira 8 km. Di sini ramai penduduk yang merupakan jirannya juga berbanding seberang sungai itu.

Masih dalam ingatannya, perjalanan sejauh 8 kilometer menaiki perahu panjang dalam arus yang deras dan sedikit bergelora. Arwah ayahnya  menjadi jurumudi duduk di belakang, Jab di tempatkan di tengah-tengah berdekatan dengan kambing jantan itu manakala arwah ibu di depan juga sebagai pendayung.

Kambing jantan agak terkejut bila ditarik ke dalam perahu. Bila berada di tengah- tengah sungai kambing semakin huru-hara, walaupun kakinya tidak diikat kambing itu berpusing-pusing dan mengembik kuat. 

Haiwan ini semakin kelakar terang Jab lagi mengenang. Ini kerana kambing adalah haiwan yang takut air atau hujan. Apabila terpericik air mulalah kambing ini berkerenah.

Kambing itu kelihatan gelabah dan hilang punca bergerak-gerak dan meakibatkan air memasuki ke dalam perahu. Keadaan semakin tidak terkawal kerana arus semakin deras dan akhirnya perahu ini karam. 

Alamak, kambing terjatuh...


Contoh : Bentuk jamban yang berada di Sungai Pahang

Jab menceritakan, arwah ayahnya menjerit meminta tolong sambil berenang menyelamatkannya. Setelah membetulkan kedudukan perahu dan membuang air bertakung ayahnya meletakkan Jab di dalam perahu.

Perkara kedua diselamatkan ialah beras seguni baja yang timbul dan barangan lainnya. Ibunya pandai berenang manakala kambing tercungap-cungap muncul mengikut perahu di permulaan air. 

Alhamdulillah semua selamat, terang Jab lagi.  Tragedi yang nyaris meragut nyawa di Sungai Pahang ini tetap diingatannya. 

Majlis malam itu berjalan dengan lancarnya. Semasa pekena kari kambing, arwah ayahendanya membuka cerita kambing jantannya. Ada yang terkejut, ada yang sedih dan ada yang ketawa mendengar cerita kontot semasa menyeberang Sungai Pahang itu, terang Jab lagi. 'Nak buat gona???...

"Awok selamat kawan selamat, alhamdulillah...", sampuk arwah Tok Wah kepada cucunya bila mendengar cerita tragic ini.



.....................................



Pemandangan khas di barat daya Maghribi, kambing memanjat pokok. Kambing ini memanjat pokok Argan untuk memakan buahnya - yang kelihatan seperti buah zaitun.




Tahun 70an, perkhidmatan boat mengambil penumpang masih wujud lagi. Selalunya kebanyakkan penumpang akan membawa hasil pertanian untuk dipasarkan sama ada di pasar minggu di Bandar Temerloh, di Kuala Krau atau di Jerantut. Boat itu akan tiba di tempat kami sekitar jam 4.30 pagi. Enjin boat itu sangat nyaring/kuat dan boleh kedengaran 2 atau 3 km jaraknya. Boat akan membawa penumpang itu pulang sekitar jam 5 petang. Perkhidmatan boat sehari sekali saja. Pendek cerita kalau lambat terlepaslah alamat tak merasa la ke pasar minggu.

Boat ini digunakan sebagai penambang membawa penumpang-penumpang dari tebing Sungai Semantan di sebelah Bandar Temerloh ke Tg Keramat di seberang sana Sg Semantan untuk membawa penumpang-penumpang dari Kg Bangau, Kg Lubok Kawah, Kg Paya Banir, Kg Paya Jejawi, Kg Tebing Tinggi, Kg Kuala Sanggang, Kg Sanggang dll yang berurusan di Bandar Temerloh, semasa itu tidak ada jalan raya dari kampong-kampong itu untuk ke Bandar Temerloh dan juga tidak ada Jambatan. Sekarang ini sudah ada Jambatan merentangi Sungai Semantan dari kampong-kampong itu ke Bandar Temerloh. Lagipun ada lagi jalan dari kampong-kampong itu ke Bandar Temerloh dan Bandar Mentakab melalui Jambatan Sg Semantan di Kg Raja, Songsang.

Inilah teksi air yang membawa penumpang hilir-mudik 2 kali sehari ke Bandar Temerloh, dan teksi air ini juga digunakan oleh kami kanak-kanak sekolah yang pada waktu itu bersekolah di Abu Bakar School; jam 5.00 pagi kami sudah berada didalam teksi air ini untuk pergi ke sekolah.




..............

#Tragedi bro Jabar di sungai pahang.

#lokasi: kg dingkir dan kg benom (rumah arwah mak long).


Thursday, July 13, 2017

Puisi terakhir WS Rendra





Puisi terakhir WS Rendra 
 Di buat sesaat sebelum dia kembali kepangkuan Ilahi

                                
Hidup itu saperti WAP*,  yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!! 
Ketika Orang memuji *MILIKKU*,
aku berkata bahwa ini *HANYA pinjaman* saja.

Bahwa kenderaanku adalah pinjaman-NYA,
Bahwa rumahku adalah pinjaman-NYA,
Bahwa hartaku adalah pinjaman-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah pinjaman-NYA ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
*MENGAPA DIA* meminjamkan kepadaku?
*UNTUK APA DIA* meminjamkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku, 
apa yang seharusnya aku lakukan untuk pemilik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika pinjaman itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
_kusebut itu_ *MUSIBAH,*
_kusebut itu_ *UJIAN*,
_kusebut itu_ *PETAKA*,
_kusebut itu apa saja ..._
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah *DERITA*....

Ketika aku berdoa, 
kuminta pinjaman yang sesuai dengan
*KEPERLUAN DUNIAWI*,
_Aku ingin lebih banyak_ *HARTA*,
_Aku ingin lebih banyak_ *KENDERAAN*,
_Aku ingin lebih banyak_ *RUMAH*,
_Aku ingin lebih banyak_ *POPULARITI*,

_Dan kutolak_ *SAKIT*,
_Kutolak *KEMISKINAN*,_
Seolah semua *DERITA* adalah hukuman bagiku.

Seolah *KEADILAN* dan *KASIH-NYA*,  
harus berjalan seperti penyelesaian matematika 
dan sesuai dengan kehendakku. 

Aku rajin beribadah, 
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku...

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan *DIA* seolah _Alat   Dagang_ ku 
dan bukan sebagai *Kekasih!*

Kuminta *DIA* membalas _perlakuan baikku_ 
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku...

Padahal setiap hari kuucapkan,
*_Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU

Mulai hari ini, 
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur 
dalam setiap keadaan 
dan menjadi bijaksana, 
mau menuruti kehendakMU saja ya *ALLAH*...

Sebab aku yakin....
*ENGKAU* akan memberikan anugerah dalam hidupku ...
*KEHENDAKMU*  adalah yang ter *BAIK* bagiku ..

Ketika aku ingin hidup *KAYA*, 
aku lupa, 
bahwa *HIDUP* itu sendiri 
adalah sebuah *KEKAYAAN*.

Ketika aku berat utk *MEMBERI*,
aku lupa, 
bahwa *SEMUA* yang aku miliki
juga adalah *PEMBERIAN*.

Ketika aku ingin jadi yang *TERKUAT*, 
....aku lupa, 
bahwa dalam *KELEMAHAN*,
Tuhan memberikan aku *KEKUATAN*.

Ketika aku takut *Rugi*, 
Aku lupa,
bahwa *HIDUPKU* adalah 
sebuah *KEBERUNTUNGAN*,
kerana *AnugerahNYA.*

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu *BERSYUKUR* kepada *NYA*



Bukan karena hari ini *INDAH* kita *BAHAGIA*. 
Tetapi karena kita *BAHAGIA*,
maka hari ini menjadi *INDAH*.

Bukan karena tak ada *RINTANGAN* kita menjadi *OPTIMIS*. 
Tetapi karena kita optimis, *RINTANGAN* akan menjadi tak terasa.

Bukan karena *MUDAH* kita *YAKIN BOLEH *. 
Tetapi karena kita *YAKIN BOLEH *.!
semuanya menjadi *MUDAH*.

Bukan karena semua *BAIK* kita *TERSENYUM*. 
Tetapi karena kita *TERSENYUM*, maka semua menjadi *BAIK*,

Tak ada hari yang *MENYULITKAN* kita, kecuali kita *SENDIRI* yang membuat *SULIT*.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, 
cukuplah menjadi *JALAN SETAPAK* 
yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari, 
cukuplah menjadi *LILIN* 
yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, 
maka *BERDOALAH* untuk
kebaikan.


WS RENDRA. 
KELAHIRAN SURAKARTA   1935
MENINGGAL  DI DEPOK.      2009     




Biografi W.S Rendra - Penyair Indonesia

Biografi W.S Rendra. Bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, beliau lahir di Solo tanggal 7 November 1935. Beliau adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta.

Masa Kecil WS Rendra
Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.


Penghargaan WS Rendra
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival
Advertisement

(1995). Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja.

Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian.



Karya Sajak/Puisi W.S. Rendra
  • Jangan Takut Ibu
  • Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
  • Empat Kumpulan Sajak
  • Rick dari Corona
  • Potret Pembangunan Dalam Puisi
  • Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
  • Nyanyian Angsa
  • Pesan Pencopet kepada Pacarnya
  • Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
  • Perjuangan Suku Naga
  • Blues untuk Bonnie
  • Pamphleten van een Dichter
  • State of Emergency
  • Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
  • Mencari Bapak
  • Rumpun Alang-alang
  • Surat Cinta
  • Sajak Rajawali
  • Sajak Seonggok Jagung


Secret...



Tunggu....

Kita Pendakwah Bukan Penghukum...

Cerita contot ini boleh buat kita semua sentap,
Moga kisah ni mampu menyedarkan kita...




Aku punya seorang rakan baik dari zaman kanak-kanak bernama Lim Wei Choon. Sama-sama bersekolah rendah hingga ke peringkat menengah. Selepas SPM, aku masuk ke Tingkatan 6 manakala Lim dihantar keluarganya melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Kenangan sewaktu kanak-kanak hingga ke zaman remaja terlalu banyak yang dikongsi bersama.

Setiap kali hari raya menjelang, Lim pasti berkunjung ke rumahku untuk menikmati dodol arwah ayahku yang amat digemarinya. kadangkala, jika ada kenduri kendara dirumahku, pasti Lim akan turut serta. Aku jarang ke rumahnya kecuali untuk beberapa sambutan seperti harijadi dan juga Tahun Baru Cina. Aku takut dengan anjing peliharaan keluarga Lim.

Dengan Lim juga aku belajar matematik manakala subjek Bahasa Malaysia sering menjadi rujukannya padaku. Kenangan-kenangan seperti memancing, mandi jeram, ponteng sekolah untuk melihat pertandingan ‘breakdance’, semuanya kami kongsi bersama-sama. Apa yang ingin kunyatakan ialah, warna kulit dan perbezaan ugama tidak pernah menjadi penghalang persahabatan kami. 20 tahun telah berlalu, Lim telah menetap di Amerika setelah berjaya mendapat Green Card, beliau bekerja disana. Itu yang kuketahui dari kakaknya.

Hubungan aku dengan Lim terputus setelah dia melanjutkan pelajaran. maklumlah, dizaman kami dulu tiada internet, email atau telefon bimbit, yang ada cuma sesekali menghantar poskad bertanya khabar. Untuk menulis surat kepada lelaki amat malas kami rasakan.

Suatu pagi. Aku bertembung dengan kakak Lim di pasar, kakaknya memberitahu Lim akan pulang ke tanahair. Dan aku amat terkejut dengan berita yang kudengar dari kakaknya.

“He’s name is no more Lim Wei Choon. He’s now Ahmad Zulfakar Lim since 5 years ago… Subhanallah!.

Syukur Alhamdulillah, rakan baikku telah menemui hidayah dari Allah S.W.T. Memang aku tak sabar untuk berjumpa dengannya lebih-lebih lagi setelah menjadi saudara seagama denganku.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, dan petang itu aku berkesempatan bertemu dengan Lim dirumahnya. Ada satu keraian istimewa sempena menyambut kepulangannya. Ketika aku tiba, tetamu sudah semakin berkurangan…

Assalamu’alaikum… Itulah kalimat pertama dari mulutnya, wajahnya sudah jauh berubah, air mukanya amat redup dan tenang.

Aku menjawab salam dan berpelukan dengannya dan kami menangis umpama kekasih yang sudah terlalu lama terpisah.

‘Ini dia olang memang sudah manyak lama kawan, dari kecik ini dua olang” Ibu Lim menjelaskan pada beberapa orang tetamu yang melihat peristiwa kami berpelukan dan menangis itu. Tetapi aku bukan menangis kerana apa, tetapi kerana amat sebak dan terharu dan sangat bersyukur melihat keislaman rakanku. Lim mengajak aku duduk dibuaian dihalaman rumahnya untuk berbual-bual. beliau masih fasih berbahasa melayu walau sudah lama berada diperantauan.

Talha, kau kawan baik aku kan?. betul tak?. Memanglah… Kenapa kau tanya macam itu?.

Kalau kau kawan baik aku, Kenapa kau biarkan aku diseksa?.

Sorry Lim. Aku tak faham… diseksa? What do you mean?.

Cuba kau fikir, kita ni kawan dari kecil. Aku ingat lagi, rumah kau tu, is my second house.

Tapi, mengapakah kau tak pernah ceritakan pada aku tentang Islam? Mengapa aku kena pergi ke US baru aku dapat belajar tentang Islam? Mengapa bukan di Malaysia, negara Islam ni?.


Jangan berhenti jadi pendakwah


Dan mengapa aku diIslamkan oleh seorang bekas paderi kristian?

Aku terdiam, kelu tak mampu menjawab. Dan Lim terus berkata-kata. Kalau betullah kau kawan baik aku, Kenapa kau cuma nak baik dengan aku di dunia saja? kau suka tengok kawan baik kau ni diseksa didalam api neraka?

Kau tahu, kalaulah aku ni tak sempat masuk islam hingga aku mati. Aku akan dakwa semua orang Islam dalam kampung kita ni sebab tak sampaikan dakwah dan risalah Islam pada aku, keluarga aku dan non muslim yang lain. Kau sedar tak, kau dah diberikan nikmat besar oleh Allah dengan melahirkan kau didalam keluarga Islam. tapi, nikmat itu bukan untuk kau nikmati seorang diri, atau untuk keluarga kau sendiri, kau dilahirkan dalam Islam adalah kerana ditugaskan untuk sampaikan Islam pada orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga bukan Islam macam aku.


Aku masih tunduk dan terkata apa-apa kerana sangat malu. Berdakwah adalah tugas muslim yang paling utama, sebagai pewaris Nabi, penyambung Risalah.

Tetapi apa yang aku lihat, orang melayu ni tidak ada roh jihad, tak ada keinginan untuk berdakwah, macamana Allah nak tolong bangsa melayu kalau bangsa tu sendiri tak tolong ugama Allah? Aku bukan nak banggakan diri aku, cuma aku kesal… sepatutnya nikmat ini kau kena gunakan dengan betul dan tepat, kerana selagi kau belum pernah berdakwah, jangan kau fikir kau sudah bersyukur pada Allah.

Dan satu lagi, jangan dengan mudah kau cop orang-orang bukan Islam itu sebagai kafir kerana kafir itu bererti ingkar. Kalau kau dah sampaikan seruan dengan betul, kemudian mereka ingkar dan berpaling, barulah kau boleh panggil kafir.

Aku menjadi amat malu, kerana segala apa yang dikatakan oleh Lim adalah benar! dan aku tak pernah pun terfikir selama ini. Aku hanya sibuk untuk memperbaiki amalan diri sehingga lupa pada tugasku yang sebenar.

Baru aku faham, andainya tugas berdakwah ini telah dilaksanakan, Allah akan memberikan lagi pertolongan, bantuan dan kekuatan serta mempermudahkan segala urusan dunia dan akhirat sesorang itu. Petang itu aku pulang dengan satu semangat baru.


Aku ingin berdakwah!

Lim yang baru memeluk Islam selama 5 tahun itu pun telah mengislamkan lebih dari 20 orang termasuk adiknya. Mengapa aku yang hampir 40 tahun Islam ini (benarkah aku islam tulen) tidak pernah hatta walau seorang pun orang bukan Islam yang pernah kusampaikan dengan serious tentang kebenaran Islam?.


Semoga Allah mengampuni diriku yang tidak faham apa itu erti nikmat dilahirkan sebagai Islam.

Ini mesej Cantik, yang membuat saya malu pada diri saya.
Adakah anda tertanya-tanya apa yang akan berlaku jika kita membawa al-Quran seperti cara kita membawa telefon bimbit?.
Bagaimana jika kita boleh membawanya di mana sahaja kita pergi,
Di Dalam beg kita atau Poket kita?.
Bagaimana jika kita melihat halaman beberapa kali sehari?.
Bagaimana jika kita kembali untuk memuat jika dilupakan?. 
Bagaimana jika kita dianggap seolah-olah kita tidak boleh hidup tanpa ia?.
- Dan benar-benar, kita tidak boleh hidup tanpanya!.
bagaimana jika kita memberikannya kepada anak-anak kita sebagai hadiah?.
Bagaimana jika kita membacanya semasa dalam perjalanan?.
Bagaimana jika kita menjadikan ia satu keutamaan setiap hari?.
Mari kita menjadikan, "Al-Quran adalah kawan kita yg terbaik."



Hussain Yee antara pendakwah yang popular ketika ini.



Thursday, June 15, 2017

Undang-undang hidup, masa tidak dapat disekat...


Awas usia 60!

PERTARUNGAN MAUT ITU BERADA DI ANTARA USIA 60 TAHUN HINGGA 70 TAHUN

Perjalanan hidup tidak ada yang undur ke belakang, tapi terus mara ke hadapan hingga sampai ke satu titik penghabisan. Itulah undang-undang hidup. Yakinlah setiap detik yang berlalu, setiap minit yang pergi, bererti masa terus berjalan, umur terus meningkat menuju ke arah penuaan. Masa tidak dapat disekat, dan apa yang dapat dilakukan hanyalah melanjutkan usia perdana seseorang, iaitu awet muda. Itu sahaja... 

Dengan bertambahnya usia, bererti bertambahnya pengalaman, dan dengan itu bertambahnya iman di dada, dan bertambah kuatnya ketakwaan untuk menempuh hari-hari akhir yang pasti akan tiba, tanpa dapat dienjak walau pun sedetik. 

Kehidupan di dunia yang fana ini merupakan tempat persinggahan yang akan menentukan kebahagian atau kecelakaan kita di sana nanti, iaitu mendapat nikmat syurga atau celaka neraka. Awas dan waspadalah semasa hidup di dunia ini, supaya tidak lalai dan lupa menyediakan bekalan yang mencukupi untuk hidup senang-lenang di akhirat nanti dalam rahmat Allah yang Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pengampun. 

Bermahabbahlah dengan Allah, bermahabbahlah dengan manusia, dan dengan semua makhlukNya, insya-Allah kita selamat. Amin!

.....................................


Tidak banyak orang yang hidup hingga mencapai usia 60 tahun. Jika kita mencapainya maka waspadalah, karena inilah saat yang menentukan akhir perjalanan seorang manusia. Akhir yang baik (Husnul Khatimah) atau akhir yang buruk (Su'ul Khatimah).

ALLAH SWT juga mengingatkan hamba-Nya yang mencapai usia 60 tahun sebagaimana tersirat dalam firman-Nya dalam Al-Fathir ayat 35 -  37 berikut ini : "Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu."

(Dikatakan kepada mereka), "Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?. Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolongpun."
                                                       
Sahabat Ali R.A., Ibnu Abbas R. Anhumma dan  Abu Hurairah R.A. menjelaskan firman ALLAH SWT di atas (yang artinya) :


"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir," bahwa artinya sampai mencapai usia enam puluh tahun.

Sedangkan yang dimaksud 'pemberi peringatan' dalam ayat di atas menurut para ulama adalah adanya uban di rambut kepala dan 'Sang Pemberi Peringatan' yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Rasulullah SAW juga bersabda menguatkan ayat di atas (yang artinya) : 
"ALLAH SWT memberi uzur kepada seseorang yang diakhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun." (HR Bukhari no. 6419).

Ibnu Hajar Rah mengatakan : "Makna hadits" bahwa uzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang yang mengatakan, 'Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku'. 

Dengan usia yang mencapai 60 tahun, maka tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah keta'atan dan KONSENTRASI PENUH UNTUK AKHIRAT...! Rasulullah pernah bersabda bahwa usia umatnya adalah berkisar di antara 60 - 70 tahun!.

Sedikit yang berhasil melewatinya. 
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Dan, "Pertarungan maut itu berada di antara usia enam puluh tahun hingga usia tujuh puluh tahun."
(HR Bukhari).  

Imam Fudhail bin Iyadh (Ulama Besar zaman Tabi' Tabiin)  memberikan tausyiah : Barang siapa yang meyakini  perjumpaan dengan Sang Khalik, ia harus sedar bahwa ia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, ia harus menyiapkan jawabannya,"  jelas Fudhail.

"Lalu bagaimana jalan keluarnya?  "Caranya mudah."  Lalu Imam Fudhail  menjelaskan tentang  teori bertaubat: 
"Beribadah dan beramal Shalihlah di sisa usiamu, karena ALLAH SWT sangat menyayangi terhadap hamba-Nya yang mahu menghabiskan sisa usianya untuk lebih mendekat kepada-Nya, INSYAA  ALLAH, ALLAH SWT akan ampuni dosa-dosa yang telah lalu dan ALLAH SWT berikan keselamatan serta kebahagiaan di dunia, di kubur hingga di Akhirat-Nya ALLAH SWT."

Di saat kita sudah berumur 50 tahun atau apa lagi sudah menginjak usia 60 tahun atau bahkan lebih, maka  biasakan ber-Do'a memohon perlindungan dari ketidak-berdayaan, malas, fitnah dan dijauhkan dari siksa kubur.

“Allahuma Inni A’udzubika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Waljubni Walharam Wa A’udzibika Minal Fitnatil Makhya Wamamati Wa A’dzubika Min ‘Adzabil Qabr”.

Artinya :  “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, penakut dan tua.  Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati, aku juga berlindung dari siksa kubur".

Neraka Jahannam sepanjang hidup, Surga sepanjang hidup

Jangan merasa aneh, inilah kehidupan.  Hakikatnya tak ada yang memberimu manfaat selain shalatmu. 

Alam itu aneh?, 
Jenazah disusul dengan jenazah....,  
Kematian disusul dengan kematian berikutnya.
Berita tentang kematian terus bermunculan... ada yg mati karena kecelakaan, ada kerana sakit, ada yang tiba-tiba mati tanpa diketahui sababnya.  Semuanya tinggalkan dunia ini dan mereka semua akan dikuburkan,  itu pasti!.

Hariku dan harimu pasti akan tiba,  persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tidak dapat kembali.

Wahai orang yang menunda Taubat dengan alasan karena masih muda, 
Kuburan bukanlah tempat untuk orang dewasa saja,
kuburan tempat manusia segala usia..


Sungguh Dunia itu hanya 3 hari :
Hari Kemarin: kita hidup di situ, dan tidak akan kembali lagi
Hari ini : kita jalani namun tak berlangsung lama
Besok: kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi. 

Maka saling memaafkanlah antar Saudara dan sesama, bersedekahlah..., Karena aku, engkau dan mereka pasti akan pergi meninggalkan gemerlapnya dunia ini untuk selamanya.

Ya Allah, kami memohon keridhaannmu, husnulkhatimah dan beruntung dengan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka.


Barangsiapa yang hidup dalam suatu kebiasaan maka ia akan mati dengan kebiasaan itu.

Dan barang siapa yang mati dalam suatu keadaan maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut

Jika kau sudah membaca tulisan ini kau sudah mendapatkan pahalanya, namun bila kau menyebarkannya dan orang lain mendapakan manfaat juga maka akan dilipat-gandakan pahala mu.

In syaa Allah.


WhatsApp dari Group Rodongan

Friday, June 9, 2017

Sepucuk surat dari Ramadan





Biar berjauhan, awak kenal siapa saya...


Kisah 'aku' mendapat surat, dari siapakah dia?, kembang-kincup hidung 'aku' menerima surat tidak bertarikh itu. Si Pengirim surat mempersoalkan janji 'aku'. "Aku' berjanji sembahyang Tarawih di masjid tetapi janji sekadar janji. Si pengirim surat dukacita, puas 'dia' menunggu tetapi hampa. Tunggu punya tunggu tidak datang jua, masuk Bulan Ramadan ke 9 masih tidak muncul...


Disurahkan, pada malam raya, Si Ibu mengetuk pintu bilikku dan menghulurkan sepucuk surat.

“Apa ini, mak?”, “Ada orang bagi tadi. Untuk kamu.”

Ibu berlalu pergi ke ruang tamu, menyambung kerja menghias rumah dengan adik dan kakak.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 pagi. Dengan cermat, aku membuka sampul berisi surat.

Ku teliti tulisannya. Kemas. Tulisan siapakah ini? Tidak ku kenali.

Aku mengambil posisi, bersila di atas katil. Aku amati bait-bait tulisan di helaian surat. Ringkas dan padat saja isinya.

“Assalamualaikum. Maaf mengganggu.

"Sebenarnya sudah lama saya memerhatikan awak. Awak boleh panggil saya stalker kalau awak nak. Sebelum puasa lagi, saya hendak sangat jumpa dengan awak. Awak tahu tak betapa saya berkenaan dengan awak?”.

Hatiku mulai berdebar-debar. Rupanya aku ada peminat dalam diam. Mesti awek sebelah apartment ini. Kembang kuncup sekejap hidungku. Tersipu-sipu. Tidak sabar-sabar lagi,
terus aku membaca perenggan seterusnya.

“Sejak tahun-tahun dulu lagi sebenarnya saya sudah lama follow awak. Awak saja tidak sedar kewujudan saya. Saya intai di facebook awak, di instagram status awak, awak kata awak suka ke masjid dekat rumah awak ini bila solat terawikh.


Saya buat keputusan untuk ke masjid yang awak sebutkan. Namun, hampa. Saya tidak nampak kelibat awak di situ. Saya tunggu dan tunggu, awak tidak muncul-muncul juga. Selama hampir 9 malam saya tunggu...

Saya kecewa. Saya merancang untuk meninjau-ninjau masjid dan surau yang berdekatan dengan rumah awak, tetapi hampa. Awak tiada di mana-mana.

Lalu, saya tekad cuba ke rumah awak. Saya dapati awak ada saja di rumah. Tidak ke mana-mana. Saya nampak awak sibuk dengan laptop dan h/p. Fikir saya, mungkin awak ada seseorang yang sangat istimewa. Bila habis saja orang bersolat terawih, awak keluar lepak dengan kawan-kawan minum-minum. Begitulah rutin hidup awak setiap hari.

Saya cemburu. Pada hal awak tidak tahu, andai awak kenal saya, awak akan tahu saya lebih istimewa dari orang yang awak suka itu. Awak tidak tahu, tidak perasaan saya pada awak jauh lebih dalam berbanding sesiapa pun yang awak kenal. Lebih anggun dan menawan dari gadis-gadis yang awak kenali.”

Aku berkerut kening. Dalam hati, dia ini menakutkanlah. Syok sendiri ke Minah ini? Aku menyambung membaca surat tidak berstem ini.

“Saya sedih. Sangat sedih".


Saya tetap menanti awak di pintu masjid yang awak katakan. Setia menanti setiap hari.
Cuma untuk melihat awak. Di malam ke-11, awak muncul akhirnya. Awak tahu tak,
betapa saya gembira sangat dapat melihat awak?. Walaupun awak tidak perasan, saya tak kisah.

Tapi, gembira saya tidak bertahan lama.

Awak hilang lagi. Tidak datang ke masjid. Saya pergi ke masjid itu setiap kali masuk waktu solat. Dengan harapan awak ada bersama berjemaah. Tapi, bertubi-tubi hampa. Bayang awak pun saya tidak nampak.

Di Waktu siang, ada saya ke rumah awak. Saya dapati awak selepas Waktu Subuh, tidur sampai Waktu Zohor. Selepas Zohor, tidur sampai Asar. Andai tidak tidur, sibuk dengan h/p. Malam kadang-kadang awak tidur, banyaknya berjaga. Tidak habis-habis dengan internet dan gajet. Kadang-kadang saya terfikir, awak tidak bosankah menghadap benda-benda itu?. Apa penting sangatkah teknologi itu?. Boleh membawa matikah?.

Saya menunggu seperti biasa di masjid. Tiap malam tanpa jemu. Hinggalah malam
terakhir terawih. Awak tidak menjenguk muka juga.


Saya amat kecewa. Saya sedih. Malam itu saya menangis cukup-cukup. Biarlah
tumpah seribu air mata sekalipun. Pedihnya hati ini. Betapa awak tidak
peduli. Tidak pedulikan saya. Tidak pedulikan kehadiran saya. Tidak pedulikan
kesetiaan saya selama ini. Tidak peduli yang saya sayangkan awak. Sayang awak sangat-sangat. Tidak peduli yang saya ambil berat sangat tentang awak.

Jauh di sudut hati saya sebenarnya, saya hendak tengok awak menjadi pemuda yang soleh. Sebab itulah tanpa jemu, saya tunggu awak di masjid tiap masa dan ketika. Tinggalkan dosa, tinggalkan benda-benda lagha. Namun, hajat tidak kesampaian.

Cukuplah sampai sini.

Saya mengambil keputusan untuk pergi. Tidak mahu menganggu awak lagi. Biarlah awak dengan hidup awak. Siapa saya di mata awak?. Sesuatu yang tidak bermakna saja pada awak. 

Biar berjauhan. Awak kenal siapa saya.

Aku menggigil sedikit membaca baris terakhir. Ku gagahkan diri jua.

“Saya Ramadhan.

Jaga diri, jaga iman.

Selamat tinggal.”


Aku terkedu. Kelu membisu. Air mata mulai menitik ke atas warkah misteri itu. 

Ya Allah. Ku tinggalkan surat tadi, berlari keluar untuk bertanyakan Emak siapa yang memberi surat itu?. Mak menggelengkan kepala. Bila aku masuk kembali ke dalam bilik, surat itu telah diterbangkan angin melalui tingkap. Hilang 'gone with the wind'.

Melihat orang lain beraya, aku juga mahu sakan beraya dengan orang tercinta. Tapi, selama ini aku buat semberono ala kadar saja pada Ramadhan Allah.

Air mata mengalir tidak tertahan lagi. 
Aku pendosa yang lupa Allah Maha Memerhati.
Kesal 150 juta kali sesal...


Sekian...



Watsap dari Rodongan