ads

Thursday, June 15, 2017

Undang-undang hidup, masa tidak dapat disekat...


Awas usia 60!

PERTARUNGAN MAUT ITU BERADA DI ANTARA USIA 60 TAHUN HINGGA 70 TAHUN

Perjalanan hidup tidak ada yang undur ke belakang, tapi terus mara ke hadapan hingga sampai ke satu titik penghabisan. Itulah undang-undang hidup. Yakinlah setiap detik yang berlalu, setiap minit yang pergi, bererti masa terus berjalan, umur terus meningkat menuju ke arah penuaan. Masa tidak dapat disekat, dan apa yang dapat dilakukan hanyalah melanjutkan usia perdana seseorang, iaitu awet muda. Itu sahaja... 

Dengan bertambahnya usia, bererti bertambahnya pengalaman, dan dengan itu bertambahnya iman di dada, dan bertambah kuatnya ketakwaan untuk menempuh hari-hari akhir yang pasti akan tiba, tanpa dapat dienjak walau pun sedetik. 

Kehidupan di dunia yang fana ini merupakan tempat persinggahan yang akan menentukan kebahagian atau kecelakaan kita di sana nanti, iaitu mendapat nikmat syurga atau celaka neraka. Awas dan waspadalah semasa hidup di dunia ini, supaya tidak lalai dan lupa menyediakan bekalan yang mencukupi untuk hidup senang-lenang di akhirat nanti dalam rahmat Allah yang Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pengampun. 

Bermahabbahlah dengan Allah, bermahabbahlah dengan manusia, dan dengan semua makhlukNya, insya-Allah kita selamat. Amin!

.....................................


Tidak banyak orang yang hidup hingga mencapai usia 60 tahun. Jika kita mencapainya maka waspadalah, karena inilah saat yang menentukan akhir perjalanan seorang manusia. Akhir yang baik (Husnul Khatimah) atau akhir yang buruk (Su'ul Khatimah).

ALLAH SWT juga mengingatkan hamba-Nya yang mencapai usia 60 tahun sebagaimana tersirat dalam firman-Nya dalam Al-Fathir ayat 35 -  37 berikut ini : "Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu."

(Dikatakan kepada mereka), "Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?. Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolongpun."
                                                       
Sahabat Ali R.A., Ibnu Abbas R. Anhumma dan  Abu Hurairah R.A. menjelaskan firman ALLAH SWT di atas (yang artinya) :


"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir," bahwa artinya sampai mencapai usia enam puluh tahun.

Sedangkan yang dimaksud 'pemberi peringatan' dalam ayat di atas menurut para ulama adalah adanya uban di rambut kepala dan 'Sang Pemberi Peringatan' yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Rasulullah SAW juga bersabda menguatkan ayat di atas (yang artinya) : 
"ALLAH SWT memberi uzur kepada seseorang yang diakhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun." (HR Bukhari no. 6419).

Ibnu Hajar Rah mengatakan : "Makna hadits" bahwa uzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang yang mengatakan, 'Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku'. 

Dengan usia yang mencapai 60 tahun, maka tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah keta'atan dan KONSENTRASI PENUH UNTUK AKHIRAT...! Rasulullah pernah bersabda bahwa usia umatnya adalah berkisar di antara 60 - 70 tahun!.

Sedikit yang berhasil melewatinya. 
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Dan, "Pertarungan maut itu berada di antara usia enam puluh tahun hingga usia tujuh puluh tahun."
(HR Bukhari).  

Imam Fudhail bin Iyadh (Ulama Besar zaman Tabi' Tabiin)  memberikan tausyiah : Barang siapa yang meyakini  perjumpaan dengan Sang Khalik, ia harus sedar bahwa ia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, ia harus menyiapkan jawabannya,"  jelas Fudhail.

"Lalu bagaimana jalan keluarnya?  "Caranya mudah."  Lalu Imam Fudhail  menjelaskan tentang  teori bertaubat: 
"Beribadah dan beramal Shalihlah di sisa usiamu, karena ALLAH SWT sangat menyayangi terhadap hamba-Nya yang mahu menghabiskan sisa usianya untuk lebih mendekat kepada-Nya, INSYAA  ALLAH, ALLAH SWT akan ampuni dosa-dosa yang telah lalu dan ALLAH SWT berikan keselamatan serta kebahagiaan di dunia, di kubur hingga di Akhirat-Nya ALLAH SWT."

Di saat kita sudah berumur 50 tahun atau apa lagi sudah menginjak usia 60 tahun atau bahkan lebih, maka  biasakan ber-Do'a memohon perlindungan dari ketidak-berdayaan, malas, fitnah dan dijauhkan dari siksa kubur.

“Allahuma Inni A’udzubika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Waljubni Walharam Wa A’udzibika Minal Fitnatil Makhya Wamamati Wa A’dzubika Min ‘Adzabil Qabr”.

Artinya :  “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, penakut dan tua.  Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati, aku juga berlindung dari siksa kubur".

Neraka Jahannam sepanjang hidup, Surga sepanjang hidup

Jangan merasa aneh, inilah kehidupan.  Hakikatnya tak ada yang memberimu manfaat selain shalatmu. 

Alam itu aneh?, 
Jenazah disusul dengan jenazah....,  
Kematian disusul dengan kematian berikutnya.
Berita tentang kematian terus bermunculan... ada yg mati karena kecelakaan, ada kerana sakit, ada yang tiba-tiba mati tanpa diketahui sababnya.  Semuanya tinggalkan dunia ini dan mereka semua akan dikuburkan,  itu pasti!.

Hariku dan harimu pasti akan tiba,  persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tidak dapat kembali.

Wahai orang yang menunda Taubat dengan alasan karena masih muda, 
Kuburan bukanlah tempat untuk orang dewasa saja,
kuburan tempat manusia segala usia..


Sungguh Dunia itu hanya 3 hari :
Hari Kemarin: kita hidup di situ, dan tidak akan kembali lagi
Hari ini : kita jalani namun tak berlangsung lama
Besok: kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi. 

Maka saling memaafkanlah antar Saudara dan sesama, bersedekahlah..., Karena aku, engkau dan mereka pasti akan pergi meninggalkan gemerlapnya dunia ini untuk selamanya.

Ya Allah, kami memohon keridhaannmu, husnulkhatimah dan beruntung dengan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka.


Barangsiapa yang hidup dalam suatu kebiasaan maka ia akan mati dengan kebiasaan itu.

Dan barang siapa yang mati dalam suatu keadaan maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut

Jika kau sudah membaca tulisan ini kau sudah mendapatkan pahalanya, namun bila kau menyebarkannya dan orang lain mendapakan manfaat juga maka akan dilipat-gandakan pahala mu.

In syaa Allah.


WhatsApp dari Group Rodongan

Friday, June 9, 2017

Sepucuk surat dari Ramadan





Biar berjauhan, awak kenal siapa saya...


Kisah 'aku' mendapat surat, dari siapakah dia?, kembang-kincup hidung 'aku' menerima surat tidak bertarikh itu. Si Pengirim surat mempersoalkan janji 'aku'. "Aku' berjanji sembahyang Tarawih di masjid tetapi janji sekadar janji. Si pengirim surat dukacita, puas 'dia' menunggu tetapi hampa. Tunggu punya tunggu tidak datang jua, masuk Bulan Ramadan ke 9 masih tidak muncul...


Disurahkan, pada malam raya, Si Ibu mengetuk pintu bilikku dan menghulurkan sepucuk surat.

“Apa ini, mak?”, “Ada orang bagi tadi. Untuk kamu.”

Ibu berlalu pergi ke ruang tamu, menyambung kerja menghias rumah dengan adik dan kakak.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 pagi. Dengan cermat, aku membuka sampul berisi surat.

Ku teliti tulisannya. Kemas. Tulisan siapakah ini? Tidak ku kenali.

Aku mengambil posisi, bersila di atas katil. Aku amati bait-bait tulisan di helaian surat. Ringkas dan padat saja isinya.

“Assalamualaikum. Maaf mengganggu.

"Sebenarnya sudah lama saya memerhatikan awak. Awak boleh panggil saya stalker kalau awak nak. Sebelum puasa lagi, saya hendak sangat jumpa dengan awak. Awak tahu tak betapa saya berkenaan dengan awak?”.

Hatiku mulai berdebar-debar. Rupanya aku ada peminat dalam diam. Mesti awek sebelah apartment ini. Kembang kuncup sekejap hidungku. Tersipu-sipu. Tidak sabar-sabar lagi,
terus aku membaca perenggan seterusnya.

“Sejak tahun-tahun dulu lagi sebenarnya saya sudah lama follow awak. Awak saja tidak sedar kewujudan saya. Saya intai di facebook awak, di instagram status awak, awak kata awak suka ke masjid dekat rumah awak ini bila solat terawikh.


Saya buat keputusan untuk ke masjid yang awak sebutkan. Namun, hampa. Saya tidak nampak kelibat awak di situ. Saya tunggu dan tunggu, awak tidak muncul-muncul juga. Selama hampir 9 malam saya tunggu...

Saya kecewa. Saya merancang untuk meninjau-ninjau masjid dan surau yang berdekatan dengan rumah awak, tetapi hampa. Awak tiada di mana-mana.

Lalu, saya tekad cuba ke rumah awak. Saya dapati awak ada saja di rumah. Tidak ke mana-mana. Saya nampak awak sibuk dengan laptop dan h/p. Fikir saya, mungkin awak ada seseorang yang sangat istimewa. Bila habis saja orang bersolat terawih, awak keluar lepak dengan kawan-kawan minum-minum. Begitulah rutin hidup awak setiap hari.

Saya cemburu. Pada hal awak tidak tahu, andai awak kenal saya, awak akan tahu saya lebih istimewa dari orang yang awak suka itu. Awak tidak tahu, tidak perasaan saya pada awak jauh lebih dalam berbanding sesiapa pun yang awak kenal. Lebih anggun dan menawan dari gadis-gadis yang awak kenali.”

Aku berkerut kening. Dalam hati, dia ini menakutkanlah. Syok sendiri ke Minah ini? Aku menyambung membaca surat tidak berstem ini.

“Saya sedih. Sangat sedih".


Saya tetap menanti awak di pintu masjid yang awak katakan. Setia menanti setiap hari.
Cuma untuk melihat awak. Di malam ke-11, awak muncul akhirnya. Awak tahu tak,
betapa saya gembira sangat dapat melihat awak?. Walaupun awak tidak perasan, saya tak kisah.

Tapi, gembira saya tidak bertahan lama.

Awak hilang lagi. Tidak datang ke masjid. Saya pergi ke masjid itu setiap kali masuk waktu solat. Dengan harapan awak ada bersama berjemaah. Tapi, bertubi-tubi hampa. Bayang awak pun saya tidak nampak.

Di Waktu siang, ada saya ke rumah awak. Saya dapati awak selepas Waktu Subuh, tidur sampai Waktu Zohor. Selepas Zohor, tidur sampai Asar. Andai tidak tidur, sibuk dengan h/p. Malam kadang-kadang awak tidur, banyaknya berjaga. Tidak habis-habis dengan internet dan gajet. Kadang-kadang saya terfikir, awak tidak bosankah menghadap benda-benda itu?. Apa penting sangatkah teknologi itu?. Boleh membawa matikah?.

Saya menunggu seperti biasa di masjid. Tiap malam tanpa jemu. Hinggalah malam
terakhir terawih. Awak tidak menjenguk muka juga.


Saya amat kecewa. Saya sedih. Malam itu saya menangis cukup-cukup. Biarlah
tumpah seribu air mata sekalipun. Pedihnya hati ini. Betapa awak tidak
peduli. Tidak pedulikan saya. Tidak pedulikan kehadiran saya. Tidak pedulikan
kesetiaan saya selama ini. Tidak peduli yang saya sayangkan awak. Sayang awak sangat-sangat. Tidak peduli yang saya ambil berat sangat tentang awak.

Jauh di sudut hati saya sebenarnya, saya hendak tengok awak menjadi pemuda yang soleh. Sebab itulah tanpa jemu, saya tunggu awak di masjid tiap masa dan ketika. Tinggalkan dosa, tinggalkan benda-benda lagha. Namun, hajat tidak kesampaian.

Cukuplah sampai sini.

Saya mengambil keputusan untuk pergi. Tidak mahu menganggu awak lagi. Biarlah awak dengan hidup awak. Siapa saya di mata awak?. Sesuatu yang tidak bermakna saja pada awak. 

Biar berjauhan. Awak kenal siapa saya.

Aku menggigil sedikit membaca baris terakhir. Ku gagahkan diri jua.

“Saya Ramadhan.

Jaga diri, jaga iman.

Selamat tinggal.”


Aku terkedu. Kelu membisu. Air mata mulai menitik ke atas warkah misteri itu. 

Ya Allah. Ku tinggalkan surat tadi, berlari keluar untuk bertanyakan Emak siapa yang memberi surat itu?. Mak menggelengkan kepala. Bila aku masuk kembali ke dalam bilik, surat itu telah diterbangkan angin melalui tingkap. Hilang 'gone with the wind'.

Melihat orang lain beraya, aku juga mahu sakan beraya dengan orang tercinta. Tapi, selama ini aku buat semberono ala kadar saja pada Ramadhan Allah.

Air mata mengalir tidak tertahan lagi. 
Aku pendosa yang lupa Allah Maha Memerhati.
Kesal 150 juta kali sesal...


Sekian...



Watsap dari Rodongan

Tuesday, May 30, 2017

Kisah Rashid - Bijak bistari...



 


Tazkirah Ramadan dari wattsaps Rodongan

Rashid - Berjaya Dunia & Akhirat


"Saya ada RM 1, awak ada RM 1. Kalau kita tukar suka sama suka RM 1 itu,
kita masih lagi ada RM 1 masing-masing..

Tapi, kalau saya ada 1 ilmu dan awak 1 ilmu, kemudian kita betukar-tukar
ilmu itu, masing-masing akan ada 2 ilmu.." kata Rasyid. *Rasyid memang
bijak !*

👍👍👍👍



Rasyid selalu baca Quran dan terjemahnya sekali. Kalau sibuk sgt pon, dia
akan baca plg kurang 1 ayat, dan terjemahnya kasi faham. Kenapa? Sbb
*belajar 1 ayat Ayat Quran lebih baik dari Solat Sunat 100 Rakaat*.
MasyaAllah pintarnya Rasyid ni !!

(Rujukan HR Ibnu Majah No.215)

👍👍👍👍


Rasyid nak solat banyak2 sepanjang malam. Tapi dia tak mampu, sbb dia hobi
tidur. Tapi Rasyid Solat Subuh berjemaah di Masjid setiap hari. Kenapa?
Sebab dia tahu Solat Subuh berjemaah di Masjid, *pahalanya seperti Solat
Seluruh Malam*. Rasyid memang bijaksana!

(Rujukan HR Muslim)

👍👍👍👍


Rasyid nak baca Quran. Tapi dia penat kerja, dan baca Quran pon merangkak2.
Tapi Rasyid banyak2 baca surah Al-Ikhlas (Qulhuwallahu Ahad), setiap hari
15x paling kurang (3x lepas habis setiap Solat Fardhu). Kenapa? Sbb dia
tahu *baca Surah Al Ikhlas 3x pahalanya sama seperti Khatam Quran 1x*.
Rasyid memang smart!

👍👍👍👍


Rasyid tgh drive ke Bank, jem sungguh! *Mulutnya kumat-kamit*. Sampai Bank,
org ramai sgt, sambil menunggu, *mulutnya kumat-kamit lg*. Rasyid tgk org2
lain semua diam sambil termenung. Seorang laki bertanya, tgh maki ke?
Rasyid kata, *"Tidakkk, saya sedang beristighfar, zikir dan selawat, lebih
baik drpd sy duduk termenung jew..Pahalanya AMAT BERAT, tp TAK PENAT
pun..."* Org tu terbeliak, kerana sangkaan buruk sangkanya meleset. *Rasyid
tersenyum kerana telah bjaya menyampaikan ilmu berguna kpdnya*

👍👍👍👍


Rasyid membaiki pendingin hawa masjid kemudian dia tolak upah yg diberi dan
berkata: mak saya berpesan supya tidak ambil upah kerja utk masjid. Setiap
kali org guna Masjid utk beribadah, kita dpt pahala.
Org2 kagum dgn mak dia dan saya kagum dgn kebaikannya. *Rasyid ni memang
cerdiklah orangnya!!*

👍👍👍👍


Seorg org yg soleh bertanya kepada Rasyid, mengapa pergi ke masjid sblum
azan.  Rasyid selamba jawab: azan utk pringatan kpd org2 yg
lalai/lagho/ralik. Dan saya berharap tak tergolong dlm klgn mereka!! ( kita
mohon dgn Allah akn kesejahteraan, keselamatn dunia akhirat).Org Soleh tu
naik insaf! *Rasyid lebih pandai daripada org tu!*

👍👍👍👍


Aku tanya Rasyid knapa kamu sentiasa tamak minum air di masjid pada hal air
tu di rumah kamu pun ada?!!
Rasyid jwb: supaya org yg letak air di masjid diberi ganjaran. Aku
terkedu.... *Rasyid bijakkan?*😬

👍👍👍👍


Rasyid berbuka di Masjid. Kenapa? Kedekut ke Rasyid? Tidak, dia nak bantu
sponsor utk dpt *Pahala Rasyid PERCUMA*, dan terus Solat Jemaah di Masjid
dpt 27x darjat. Duit pon jimat. *Rasyid is sooo brilliant!!*

👍👍👍👍

Lepas berbuka di Masjid tu, Rasyid terus basuh tgn dan dalam koceknya dia
keluarkan RM1. Dia masukkan dalam Peti Masjid. "Alaaa, RM1 jewww!" Kata
sorg budak... Rasyid kata, "takpe la dek, abg bukan kaya sgt, tp kalau bole
istiqamah dan berterusan, setiap hari buat macam ni. Buatnya malam ni Malam
Lailatulqadar, *nilai RM1 tu sama macam RM21 juta!!* Budak tu terkejut dan
tanya kenapa? Rasyid bawa keluar pen Kilometriko (iklan percuma) dan
kertas, dan tulis:

RM1 x 700 ganjaran sedekah x 1,000 bulan x 30 hari
=RM21,000,000

*Budak tu terus cium tgn Rasyid, sbb kagum Rasyid bukan aja pandai Agama,
malah pandai Add Math!!*


Saturday, May 6, 2017

Senator Terpilih... antidote!



Orangnya peramah dan mudah didekati. Bila sudah mesra beliau akan menghampiri kita dan berbual dan terkadang menunjukkan di hpnya berita terkini perkembangan politik di Malaysia. Lagaknya seolah-olah masih menjawat jawatan Senator.

.......................................


Yang Berhormat Senator Tuan Haji Hassan bin Abdullah. Seorang yang berdidikasi dan tekun menjalankan tugas walaupun tidak mempunyai pendidikan tinggi. Beliau dari kaum Semalai. Berusia 78 tahun, berasal dari Bera, Pahang. Memeluk Islam ketika berusia setengah dekad.

Bekas Senator ini telah bersara tahun 1990 dan kini banyak masa berada di masjid. Kalau tidak uzur susuk ini setiap waktu bersolat berjemaah. Kalau bercerita bab bersedekah 'Tangan kiri tidak sedar apa tangan kanan sumbangkan'.

Orangnya peramah dan mudah didekati. Bila sudah mesra beliau akan menghampiri kita dan berbual dan terkadang menunjukkan di hpnya berita terkini perkembangan politik di Malaysia. Lagaknya seolah-olah masih menjawat jawatan Senator.

Itulah Pak Haji Hassan, mewakili suara Orang Asli di Parlimen. Beliau boleh berbangga kerana suaranya di parlimen didengari pemimpin. Kemudahan asas seperti jalanraya, bekalan air, letrik dan tanah orang asli sudah digazettekan dan sempurna.


.........................................


Hassan Nam Dari Tasek Bera

KE KERUSI SENATOR


Senator Hassan bin Nam merupakan Orang Asli kedua dilantik sebagai Ahli Dewan Negara (Senator) yang mewakili masyarakat Orang Asli di Semenanjung Malaysia. Ahli Dewan Negara yang pertama kali dilantik ialah Bangku Hamid Pandak Jalil, dari kaum Semai. 

DEDIKASI dalam menjalankan tugas menjadi prinsip hidup bagi YB Senator Hassan bin Nam. Beliau mengamalkan pegangan hidupnya itu sejak kanak-kanak lagi, iaitu sewaktu beliau belum tahu menyebut dan mengenali istilah 'dedikasi' itu sendiri.

"Usaha yang gigih dan tekun dengan apa saja tugas yang dilakukan, Insya-Allah akan membawa kejayaan dalam hidup kita," begitulah keyakinan Senator berusia 51 tahun (kini hampir 77 tahun) ini yang baru memeluk agama Islam lebih setahun yang lalu. 

Dari pegangan hidup itulah yang menjadi titik tolak kepadanya mencapai kejayaan. Senator Hassan bin Nam merupakan Orang Asli kedua dilantik sebagai Ahli Dewan Negara (Senator) yang mewakili masyarakat Orang Asli di Semenanjung Malaysia. Ahli Dewan Negara yang pertama kali dilantik ialah Bangku Hamid Pandak Jalil, dari kaum Semai.

Senator Hassan Nam dari kaum Semelai ini juga mencipta sejarah bila beliau terpilih tidak lama dulu sebagai Ahli Majlid Perunding Ekonomi Negara (MAPEN) newakili masyarakat Orang Asli dalam majlis tersebut yang Pengerusinya ialah Tan Sri Ghazali Shafie.

Menyingkap latarbelakang kehidupannya, beliau bukanlah seorang yang berpelajaran tinggi. Sama seperti kebanyakan kanak-kanak masyarakat Orang Asli, Senator Hassan Nam hanya mampu menamatkan pelajarannya sampai darjah 5 Sekolah Melayu Pos Iskandar, di Tasek Bera, Temerloh, Pahang.

"Saya berasal dari suku kaum Semelai. Semasa di kampung kami bercakap dalam bahasa Semelai. Hidup masyarakat kami bergantung kepada hasil pertanian. Sebab itu sejak kecik lagi ibu mengajar saya berladang cara tradisional. Ayah saya meninggal dunia waktu usia saya 6 tahun. Sebagai anak lelaki, sayalah yang menjadi harapan keluarga," cerita Senator Hassan sewaktu ditemubual di rumahnya di Taman Selasih, Gombak baru-baru ini.


Kisah Senator Hasan Nam keluar dalam majalah Famili keluaran bulan Julai 1989.


MENGENALI

Walaupun beliau dilahir dan dibesarkan di sebuah kampung pendalaman, kampung Genrek, namun Senator Hasan Nam mempunyai kegemarannya sendiri yang dapat mengembangkan daya pemikirannya iaitu bersahabat pena, membaca buku-buku cerita dan pengetahuannya di samping membaca akhbar.

"Saya juga gemar memancing dan bermain bola sepak", beritahunya. 

Senator Hassan Nam mula mengenali dunia luar daerahnya bila beliau mencari pekerjaan di Jabatan Hal Ehwal Orang Asli (JHEOA) pada tahun 1958. Pekerjaan awalnya sebagai buruh bergaji hari.
"Saya bekerja sebagai tukang rumah buat kem Senoi Pra'aq di Kuala Triang, Hulu Perak bersama Encik Puteh dengan bayaran gaji sehari $2.50, " ceritanya.

Sebenarnya ada kisah menarik yang membuatnya menjadi orang perantau.

"Pada tahun 1958 itu, pada satu hari emak saya sakit kuat dan dipaksa dibawa ke Gombak dengan helikopter. Kerana sebab tertentu saya tak dapat ikut serta. Jadi kemudiannya saya terpaksa pergi bersendirian. Saya berperahu ke Kuala Bera dan di pertengahan jalan menuju ke Kuala Lumpur, terpaksa singgah di Bahau kerana kehabisan wang."

Di Bahau, beliau sempat kemgambil upah memasak rotan dengan seorang pengusaha barang-barang perabot selama 20 hari. Dari gaji yang dikumpulnya sebanyak $30/= itulah menjadi tambangnya meneruskan perjalanan ke Gombak, Kuala Lumpur.

"Malangnya sesampai sahaja ke Hospital Orang Asli di Gombak, emak telah pun dibawa balik ke Pahang. Oleh kerana sudah terlanjur saya berada di sini, terfikir pula saya untuk terus menetap di perantauan mengadu nasib," cerita beliau.

BERKHIDMAT

Dari pekerjaan awalnya sebagai tukang buat rumah, pada awal tahun 1959, beliau bernasib baik mendapat pekerjaan sebagai 'Field Staff' mengikut Askar Senoi Pra'aq. Tugasnya sebagai 'Voice Operator W/Set' dan kerja-kerja Operasi di Pahang (Operation Off Seladang) dan tahun 1960 mengikut Operasi di Perak (Perak Operation Off Bamboo).

Sewaktu berkhidmat dengan Senoi Pra'aq itulah beliau pernah mengikuti Pembarisan Tamat Darurat pada tahun 1960 berjalan kaki pembarisan dari Lake Garden hingga ke Jalan Ipoh, Kuala Lumpur.

Pada bulan Mei, 1961, beliau beralih tugas ke bahagian Perubatan di Hospital JHEOA, Gombak dan terus mengikuti kursus asas perubatan selama 6 bulan di Hospital Besar Kuala Lipis, Pahang. Setelah tamat kursus, beliau dihantar bertugas di pendalaman di Pos Kemar, Gerik, Perak untuk memberi khidmat rawatan perubatan selama 3 bulan.

"Pada awal tahun 1962, saya telah dinaikkan pangkat ke jawatan Pegawai Luar Tingkat biasa bahagian perubatan, bertugas di Hospital JHEOA Gombak dan di samping itu saya pernah ditugaskan juga di Pos Pendalaman dalam masa posting," cerita Senator Hassan Nam.

Antara tempat-tempat yang beliau pernah berkhidmat ialah Pos Brooke, Ulu Kelantan (1962-1963) dan di Pos Bukit Serok Sungai Keratong, Rompin, Pahang (1963-1965).

Awal bulan Mei, 1965 hingga 1975 saya telah ditugaskan mengetuai Unit X-Ray bergerak untuk menghapuskan penyakit TIBI khasnya di kalangan masyarakat Orang Asli di Semenanjung Malaysia, iaitu tugas melawat mengembara dengan unit X-Ray ke perkampungan Orang Asli sama ada melalui jalan raya dan udara dengan helikopter," beritahu beliau lagi.


"Memang sehingga ini terdapat anak-anak Orang Asli yang ada memegang jawatan yang baik dengan kerajaan atau swasta, tapi bilangannya tidak ramai. Apa yang penting dan menjadi matlamat saya, ialah untuk menimbulkan kesedaran di kalangan masyarakat Orang Asli betapa pentingnya pelajaran untuk mengejar kemajuan hidup,"


PENGALAMAN

Dalam tempoh 10 tahun itulah, Senator Hassan Nam menimba pengalaman mengalami pelbagai masalah masyarakat hampir seluruh perkampungan Orang Asli di Semenanjung Malaysia.

"Bintangnya' dalam kerjaya semakin cerah bila pada tahun 1975 beliau dinaikkan pangkat ke jawatan Pegawai Luar Kanan Bahagian Pentadbiran dan dalam waktu yang sama ditukar bertugas sebagai Pegawai Pentadbiran Kawasan Pusat Perubatan Hospital dan Perumahan JHEOA di Batu Caves 11 1/2 Gombak hingga 1983.

"Tanggungjawab saya waktu itu dianggap sebagai jawatan Penolong Pengarah," katanya sambil tersenyum.

Pada pertengahan tahun 1983 beliau ditukarkan semula ke Bahagian Perubatan bertugas sebagai Pegawai Pembelian Perubatan Hospital JHEOA Gombak.

Dari pengalaman yang telah dilaluinya, sesuai dengan kewibawaannya sebagai Ahli Dewan Negara, Senator Hassan Nam amat menyedari banyak masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang diwakilinya. Atas hasrat itulah beliau berazam untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebaik mungkin untuk memajukan kehidupan masyarakat Orang Asli.

"Memang sehingga ini terdapat anak-anak Orang Asli yang ada memegang jawatan yang baik dengan kerajaan atau swasta, tapi bilangannya tidak ramai. Apa yang penting dan menjadi matlamat saya, ialah untuk menimbulkan kesedaran di kalangan masyarakat Orang Asli betapa pentingnya pelajaran untuk mengejar kemajuan hidup," begitulah hasratnya.

Beliau sendiri mempraktikkan apa yang dikatakannya. Anak sulungnya, Habibah, 23, kini sedang menuntut di ITM  dalam jurusan perakaunan, Rosita, 19, menuntut tingkatan 6 aliran sains sementara anak ketiganya Mohsonie, 18, terus melanjutkan pelajarannya selepas keputusan peperiksaan SPM baru lepas. Anak bongsunya pula, Manijam, kini sedang menuntut tingkatan 1.


AKTIF

Senator Hassan Nam mendirikan rumahtangga dengan isterinya, Meah Mulat 24 tahun lalu sewaktu beliau di Bukit Ibam.

"Entahlah, tak pernah terlintas satu hari nanti saya akan berkahwin dengan suku kaum asli yang lain. Isteri saya adalah suku kaum Jakun," beritahu beliau.

"Sebagai seorang yang gemar aktif dalam masyarakat, Senator Hassan Nam mula melibatkan dirinya dalam politik setempat pada tahun 1971 sebagai ahli UMNO Cawangan Batu 12, Gombak.

Dari seorang ahli biasa, beliau berjaya melangkah tahap demi tahap dari peringkat Cawangan hingga ke peringkat Bahagian di Setapak dan kemudiannya Selayang. Beliau juga pernah terpilih sebagai perwakilan ke Perhimpunan Agong UMNO iaitu pada tahun 1974 dan 1977.

Sementara itu Senator Hassan Nam turut aktif dalam koperasi PURBA/KIJANG MAS sejak 1971 hingga 1983. Dari menjadi ahli biasa, beliau dilantik sebagai Pemangku Pengurus Besar Koperasi Kijang Mas (1982-1983).

Kemuncak kerjaya beliau, pada bulan Februari, 1984, beliau telah dilantik sebagai Ahli Dewan Negara, satu jawatan yang tak pernah dimimpikan sebelumnya.

Bagi diri Senator Hassan Nam, mengingatkan zaman kanak-kanaknya yang hidup di pendalaman, dengan pelajaran yang terbatas , tidak terlintas dalam angan-angan untuk mendapat gelaran Yang Berhormat.

Namun beliau sendiri telah membuktikan, ketabahan, sikap dedikasi dan tekun dalam tugas-tugas yang dilakukannya telah meletakkan dirinya di tangga kejayaan.
Jasa baktinya kepada masyarakat khususnya di kalangan Orang-Orang Asli turut mendapat penghargaan dengan penganugerahan Pingat PJK kurniaan DYMM Sultan Selangor pada tahun 1973 beliau turut mendapat kurniaan Pingat PPN oleh DYMM Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong.



Kisah Senator Hasan Nam keluar dalam majalah Famili keluaran bulan Julai 1989 

Hassan Nam Dari Tasek Bera - KE KERUSI SENATOR

























Monday, April 24, 2017

SIAPA KATA HARTA TIDAK BOLEH DIBAWA MATI?




HARTA & KEMATIAN ??

Haji Osman. Pemilik salah sebuah pengusaha kilang batik & pakaian terkemuka di Semenanjung, memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta tidak begitu berharga baginya. Seakan dunia ini telah begitu hina di matanya.

Inilah mungkin pandangan mata dari orang yang dunia ditangannya dan akhirat di hatinya.

Maka beberapa orang pengusaha muda yang bersemangat mendatangi beliau.

“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti haji Osman. Boleh berniaga maju sukses, tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan. Hingga seperti haji Osman, bersedekahnya terasa ringan”.

“Wah", sahut Haji Osman tertawa, “Antum salah alamat!”

“Mengapa?”...

Kalian datang pada orang yg salah.... Saya ini SANGAT SAYANG PADA HARTA DAN SUKA PADA HARTA. Saya ini sangat mencintai aset yang saya miliki ".

“Sebab apa?”..

“Oleh kerana sangat cinta dan sayangnya saya pada harta, SEHINGGA SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI. AKAN SAYA BAWA MATI BERSAMA KE DALAM KUBUR.

Sebenarnya saya TIDAK MAHU BERPISAH dengan kekayaan saya. Makanya sementara saya masih hidup ini saya titipkan dulu.


Tumpangkan pada masjid, 
Tumpangkan pada anak yatim,
Tumpangkan pada fakir miskin,
Tumpangkan pada surau, 
Tumpangkan pada pondok pengajian,
Tumpangkan pada pejuang fii sabilillah. 
Tumpangkan pada guru-guru Agama
Tumpangkan pada karyawan yang rajin Ibadah.
Tumpangkan pada saudara-mara dan sahabat handai yang sedang sakit di hospital.

Alhamdulillah ada yang berkenan mahu ditumpangi, saya senang sekali.

Alhamdulillah ada yg sudi diamanahi, saya bahagia sekali.

Insyaa Allah... DI AKHIRAT NANTI SAYA BOLEH AMBIL BALIK, APA-APA YANG SAYA TUMPANGKAN DULU. 

Saya ingin kekayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di alam kubur dan di akhirat".

“Jadi..!” Siapa bilang harta tidak dibawa mati....? 

Harta itu dibawa mati....!!! Caranya ? ... 


JANGAN BAWA SENDIRI!, Minta tolong dibawakan oleh anak yatim, fakir miskin, orang-orang yang berjuang di jalanNya dan lain-lain..
kerana anak dan keluarga, saya cuma bagi pakai kain putih sahaja...


- Wattsaps Rodongan

Tuesday, March 28, 2017

Petani yang dermawan

 “CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

Pada zaman Cina Kuno, ada seorang petani yg mempunyai seorang jiran yang bekerja sebagai pemburu &  mempunyai anjing-anjng yang galak namun kurang terlatih.

Anjing-anjng itu sering melompati pagar dan mengejar biri-biri petani.
Petani itu meminta jirannya untuk menjaga anjing-anjngnya, tapi ia tidak dipedulikan.

Suatu hari anjing-anjng itu melompati pagar dan menyerang beberapa biri-biri, sehingga cedera parah.

Petani itu merasa tak sabar dan memutuskan untuk pergi ke bandar untuk mengadu kepada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; "Saya boleh menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjngnya, tapi anda akan kehilangan seorang kawan dan mendapat seorang musuh. Mana yang anda inginkan, kawan atau musuh yang menjadi jiranmu?”.

Petani itu menjawab bahawa ia lebih suka mempunyai seorang kawan.“Baik, saya akan mencadangkan satu jalan penyelesaian yang mana anda dapat menjaga biri-biri, supaya selamat dan akan membuat jiran anda tetap sebagai kawan".

Mendengar cadangan hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan cadangan hakim.
Dia mengambil tiga biri-biri terbaiknya dan menghadiahkan kepada 3 anak jirannya itu, yang mana mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan biri-biri tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengurung anjing buruannya.

Sejak saat itu anjing-anjing ini tidak pernah mengganggu biri-biri Pak tani itu lagi.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering menghadiahkan hasil buruan kepada petani.

Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging biri-biri dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat jiran itu menjadi teman yang baik.


Sebuah ungkapan Cina Kuno mengatakan,
“CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

”GIVE & GIVE, NOT TAKE & GIVE...“

Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang...